KENDARI — Universitas Mandala Waluya (UMW) melalui Unit Program Studi Teknik Lingkungan resmi meluncurkan hasil penelitian inovatif yang menggabungkan keahlian dosen dan kreativitas mahasiswa dalam mengolah limbah perikanan menjadi bioplastik berkelanjutan. Penelitian yang dimulai sejak Januari 2025 ini menunjukkan terobosan signifikan dalam mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi hijau bagi industri perikanan di Sulawesi Tenggara.
Peluncuran resmi hasil penelitian ini diselenggarakan pada Jumat, 18 April 2026, di Gedung Laboratorium Terpadu Kampus UMW Kendari, dihadiri oleh berbagai stakeholder pendidikan, pemerintah daerah, dan industri perikanan lokal. Acara tersebut menandai komitmen UMW dalam menghasilkan inovasi berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Latar Belakang dan Motivasi Penelitian
Penelitian ini berangkat dari permasalahan nyata yang dihadapi wilayah Kendari sebagai salah satu pusat perikanan terbesar di Indonesia Timur. Setiap tahun, industri perikanan menghasilkan jutaan ton limbah organik berupa sisik, tulang, dan kulit ikan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah tersebut biasanya dibuang langsung ke laut atau ditimbun, menyebabkan pencemaran lingkungan dan memicu berbagai masalah ekologis.
Dr. Ir. Budi Santoso, M.Sc., Ketua Program Studi Teknik Lingkungan UMW, menjelaskan motivasi di balik penelitian ambisius ini. “Kami melihat peluang besar untuk mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi tinggi. Kendari memiliki potensi perikanan yang luar biasa, namun manajemen limbahnya masih jauh dari ideal,” ujar Dr. Budi dalam konferensi pers pembukaan acara peluncuran.
Dia melanjutkan, “Ide untuk mengubah limbah perikanan menjadi bioplastik lahir dari diskusi intensif antara dosen dan mahasiswa kami pada awal 2024. Kami bertanya-tanya: mengapa limbah bernilai ini tidak bisa diubah menjadi produk yang bermanfaat?” Pertanyaan sederhana itu kemudian menjadi awal perjalanan penelitian yang komprehensif selama lebih dari satu tahun.
Proses Penelitian dan Tim Peneliti
Tim peneliti terdiri dari lima dosen pembimbing dan 12 mahasiswa dari berbagai angkatan Program Studi Teknik Lingkungan UMW. Mereka bekerja sama dengan Laboratorium Bioteknologi Terpadu Kampus dan melibatkan kolaborasi dengan Balai Riset dan Standardisasi Industri Sulawesi Tenggara.
Ketua Tim Peneliti Mahasiswa, Fitra Permana, mahasiswa tingkat akhir dari Teknik Lingkungan, menggambarkan proses penelitian yang intensif. “Kami memulai dengan mengumpulkan dan menganalisis komposisi limbah perikanan dari berbagai lokasi penangkapan ikan di sekitar Kendari. Data menunjukkan bahwa limbah perikanan mengandung kitin dan protein tinggi yang sangat potensial untuk dikonversi menjadi biopolimer,” jelas Fitra sambil menunjukkan sampel bioplastik hasil riset.
Proses konversi limbah menjadi bioplastik melibatkan beberapa tahapan teknis. Pertama, limbah perikanan dikumpulkan dan dibersihkan untuk menghilangkan kontaminasi. Kedua, limbah diekstraksi untuk mengambil protein dan kitin sebagai bahan baku utama. Ketiga, bahan baku tersebut melalui proses fermentasi dengan menggunakan bakteri tertentu yang menghasilkan asam organik. Tahap terakhir adalah polimerisasi, di mana material diproses untuk membentuk bioplastik dengan karakteristik fisik dan mekanis yang sesuai standar.
Prof. Dr. Siti Nurhaliza, M.Tech., salah satu dosen pembimbing utama penelitian, menerangkan keunggulan metode yang dikembangkan. “Proses yang kami rancang dirancang untuk meminimalkan penggunaan bahan kimia berbahaya dan energi berlebihan. Kami menggunakan prinsip ekonomi sirkular di mana hampir 90 persen limbah perikanan dapat diubah menjadi produk bioplastik atau produk samping yang bernilai,” paparnya dengan detail teknis yang mendalam.
Hasil dan Pencapaian Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan prestasi yang mengesankan. Tim berhasil menghasilkan bioplastik dengan karakteristik berikut: kekuatan tarik mencapai 45-52 MPa, elongasi pada putus sekitar 8-12 persen, dan degradasi penuh dapat terjadi dalam waktu 120-180 hari di lingkungan alami. Karakteristik ini memenuhi standar internasional untuk bioplastik komersial.
Lebih lanjut, penelitian menghasilkan beberapa publikasi ilmiah yang telah diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi dan akan segera dipublikasikan di jurnal internasional. Tim juga telah mengajukan hak paten untuk proses dan formula bioplastik inovatif mereka kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.
“Pencapaian ini bukan hanya tentang publikasi atau paten. Ini tentang membuktikan bahwa universitas kita mampu menghasilkan solusi nyata untuk masalah nyata,” ujar Fitra dengan penuh kebanggaan.
Pernyataan Pejabat Kampus dan Dukungan Institusional
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Ir. Hendra Wijaya, M.Eng., memberikan dukungan penuh dan apresiasi tinggi atas pencapaian tim peneliti. Dalam sambutannya di acara peluncuran, beliau menekankan komitmen UMW terhadap penelitian yang berdampak sosial.
“Universitas Mandala Waluya berkomitmen menjadi pusat inovasi yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan akademis, tetapi juga solusi praktis untuk kehidupan masyarakat. Penelitian ini adalah bukti nyata dari komitmen tersebut,” kata Prof. Hendra dengan penuh keyakinan.
Beliau juga mengumumkan alokasi dana khusus untuk tahap selanjutnya penelitian ini. “Kami akan mengalokasikan dana sebesar 2 miliar rupiah untuk mendukung pengembangan pilot plant dan scaling-up dari teknologi ini. Kami yakin bahwa dalam dua tahun ke depan, teknologi ini bisa diterapkan di tingkat industri,” tambahnya.
Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengembangan, Dr. Bambang Suryanto, M.Sc., juga memberikan komitmen untuk memfasilitasi kolaborasi dengan industri dan pemerintah daerah. “Kami sedang mengkoordinasikan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk membentuk consortium penelitian dan pengembangan yang melibatkan universitas, pemerintah, dan industri perikanan,” jelasnya.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Penelitian ini diproyeksikan memiliki dampak ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Secara ekonomi, pengembangan teknologi ini dapat menciptakan nilai tambah dari limbah perikanan yang sebelumnya tidak termanfaatkan. Estimasi menunjukkan potensi pasar bioplastik berbahan dasar limbah perikanan mencapai 500 juta dolar per tahun di kawasan Asia Tenggara.
Secara lingkungan, implementasi teknologi ini dapat mengurangi pencemaran laut hingga 40 persen dari limbah perikanan dan menurunkan emisi karbon hingga 60 persen dibandingkan dengan proses pembuatan plastik konvensional berbahan baku fosil.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. Suryanto, M.Si., yang hadir dalam acara peluncuran, menyatakan antusiasmenya. “Inovasi ini sejalan dengan visi pemerintah provinsi untuk menjadikan sektor perikanan lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kami siap mendukung implementasi teknologi ini di lapangan,” ujarnya.
Langkah Selanjutnya dan Rencana Pengembangan
Tim peneliti telah merancang rencana pengembangan yang terstruktur untuk fase selanjutnya. Langkah pertama adalah pembangunan pilot plant dengan kapasitas 10 ton limbah perikanan per bulan di kawasan industri Kendari. Fase kedua melibatkan uji coba komersial berskala kecil melibatkan 3-5 usaha pengolahan perikanan lokal.
Fitra Permana menjelaskan timeline yang ambisius namun realistis. “Kami menargetkan pada akhir 2026, pilot plant sudah beroperasi penuh. Kemudian pada 2027-2028, kami akan melakukan scaling-up menuju produksi komersial. Jika semuanya berjalan lancar, kami yakin bioplastik berbahan limbah perikanan buatan UMW bisa masuk pasar pada 2028,” ungkapnya dengan antusiasme.
Selain itu, tim juga sedang mengembangkan variasi produk dari teknologi yang sama. Mereka sedang meneliti kemungkinan menggunakan limbah perikanan untuk membuat film plastik biodegradable, kemasan produk perikanan, dan material konstruksi ringan.
Pembelajaran dan Implikasi untuk Akademik
Penelitian ini juga memberikan pembelajaran berharga bagi pengembangan kurikulum di Program Studi Teknik Lingkungan. Dr. Budi Santoso mengungkapkan rencana integrasi metodologi penelitian ini ke dalam mata kuliah inti program studi.
“Kami akan mengembangkan mata kuliah baru tentang ‘Teknologi Konversi Limbah Organik’ yang akan memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa kami tentang bagaimana menerapkan prinsip-prinsip teknik lingkungan dalam konteks industri nyata,” jelasnya.
Selain itu, penelitian ini juga menjadi model bagi penelitian interdisipliner di UMW. Prof. Dr. Siti Nurhaliza menekankan pentingnya kolaborasi lintas departemen. “Kesuksesan penelitian ini karena kami berkolaborasi dengan berbagai keahlian — dari teknik lingkungan, bioteknologi, hingga ekonomi industri. Model ini perlu direplikasi untuk penelitian-penelitian lainnya di universitas kita,” katanya.
Penutup
Penelitian inovatif Universitas Mandala Waluya tentang pengolahan limbah perikanan menjadi bioplastik menandai babak baru dalam kontribusi UMW terhadap pembangunan berkelanjutan di wilayah Sulawesi Tenggara. Kombinasi sempurna antara keahlian dosen berpengalaman dan kreativitas mahasiswa muda menghasilkan inovasi yang tidak hanya akademis bernilai tinggi, tetapi juga memiliki potensi aplikasi praktis yang besar.
Dengan dukungan penuh dari pimpinan universitas, komitmen tim peneliti, dan kolaborasi dengan berbagai stakeholder eksternal, penelitian ini diharapkan dapat berkembang menjadi solusi industri yang nyata dalam waktu dekat. Kesuksesan ini membuka peluang bagi universitas untuk menjadi pusat inovasi berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal.
Sebagai penutup, Prof. Hendra Wijaya menekankan visi jangka panjang universitas dalam pidatonya: “Kami ingin Universitas Mandala Waluya dikenal tidak hanya sebagai institusi pendidikan berkualitas, tetapi juga sebagai universitas yang menggerakkan inovasi berkelanjutan untuk kemajuan Sulawesi Tenggara dan Indonesia secara keseluruhan. Penelitian ini adalah langkah awal dari perjalanan panjang itu.”
Dengan momentum positif ini, Universitas Mandila Waluya Kendari siap menjadi pionir dalam pengembangan teknologi hijau di kawasan timur Indonesia.
—
[Panjang artikel: 1.847 kata]