KENDARI – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unit Program Studi Universitas Mandala Waluya bekerja sama dengan sepuluh organisasi mahasiswa lainnya meluncurkan inisiatif besar-besaran bertajuk “Gerakan Kampus Hijau” pada Jumat, 04 April 2026. Program yang dirancang selama enam bulan ini bertujuan mengintegrasikan praktik keberlanjutan lingkungan ke dalam seluruh aspek kehidupan akademik dan kemahasiswaan di kampus.
Acara peluncuran digelar di Aula Mahasiswa Gedung Pusat Universitas Mandala Waluya dengan menghadirkan lebih dari 500 peserta, mencakup mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga pejabat pemerintah lokal. Program ini menjadi momentum penting bagi ekosistem organisasi mahasiswa di universitas untuk menunjukkan kontribusi nyata terhadap isu lingkungan global yang semakin urgen.
Latar Belakang dan Motivasi Program
Pertumbuhan jumlah mahasiswa di Universitas Mandala Waluya dalam lima tahun terakhir telah menciptai tantangan tersendiri dalam pengelolaan limbah dan efisiensi sumber daya alam. Data yang dikumpulkan oleh Tim Audit Internal Organisasi Mahasiswa menunjukkan bahwa kampus menghasilkan rata-rata 250 kilogram sampah per hari, dengan tingkat daur ulang yang masih mencapai angka 15 persen.
Ketua BEM Unit Program Studi, Aurellia Kusuma Rahman, 21 tahun mahasiswa semester lima program studi Manajemen, menjelaskan motivasi di balik inisiatif ambisius ini. “Kami melihat bahwa generasi mahasiswa kami memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan planet ini. Gerakan Kampus Hijau bukan hanya slogan, tetapi komitmen konkret untuk mengubah perilaku dan budaya kampus kita menjadi lebih berkelanjutan,” ujar Aurellia dalam wawancara eksklusif dengan redaksi pada hari peluncuran.
Selain BEM, kolaborasi dalam program ini melibatkan organisasi mahasiswa yang tersebar di berbagai unit studi, antara lain Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan, Unit Kegiatan Mahasiswa Lingkungan Hidup “EcoWalk”, Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam “Mandala Trek”, Keluarga Besar Mahasiswa Pertanian Berkelanjutan, serta lima organisasi lainnya yang memiliki visi serupa dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Tiga Pilar Utama Program
Gerakan Kampus Hijau dirancang dengan tiga pilar utama yang saling terintegrasi. Pilar pertama adalah “Edukasi dan Kesadaran” yang mencakup serangkaian workshop, seminar, dan kampanye literasi lingkungan untuk seluruh civitas akademika. Pilar kedua adalah “Aksi Nyata dan Inovasi” yang melibatkan implementasi teknologi ramah lingkungan, pengurangan plastik sekali pakai, dan peningkatan efisiensi energi di lingkungan kampus.
Pilar ketiga, “Advokasi dan Kebijakan”, merupakan upaya organisasi mahasiswa untuk mendorong kebijakan institusional yang mendukung praktik berkelanjutan. Melalui pilar ini, mahasiswa akan melakukan dialogue konstruktif dengan pihak manajemen universitas untuk memastikan bahwa komitmen lingkungan menjadi bagian integral dari visi jangka panjang institusi.
Ketua Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam “Mandala Trek”, Rizki Dwi Pratama, mahasiswa semester tujuh program studi Teknik Sipil, menyampaikan detail teknis program. “Dalam fase pertama yang berjalan sampai akhir 2026, kami menargetkan pengurangan limbah kampus sebesar 40 persen melalui program segregasi sampah yang lebih ketat. Kami juga akan membangun dua unit komposter komunal di lokasi strategis kampus untuk mengolah sampah organik menjadi kompos berkualitas,” terangnya.
Komponen Program dan Jadwal Implementasi
Dalam dokumen resmi yang dibagikan saat acara peluncuran, terdapat rincian komprehensif mengenai komponen-komponen program. Komponen pertama adalah “Shift Kampus Bebas Plastik” yang menargetkan pengurangan 80 persen penggunaan plastik sekali pakai dalam kantin, warung kopi, dan fasilitas publik kampus dalam waktu enam bulan. Organisasi mahasiswa akan bekerja sama dengan pengelola fasilitas untuk menyediakan alternatif kemasan ramah lingkungan.
Komponen kedua, “Audit Energi dan Efisiensi”, akan melibatkan mahasiswa program studi Teknik Elektro untuk melakukan mapping menyeluruh terhadap konsumsi energi di semua gedung akademik. Hasil audit ini akan menjadi dasar untuk rekomendasi penghematan energi dan transisi bertahap ke sumber energi terbarukan.
Komponen ketiga adalah “Taman Kampus Hijau” dengan target penanaman 500 pohon di seluruh area kampus dalam dua bulan ke depan. Proyek ini tidak hanya bertujuan meningkatkan area hijau, tetapi juga menjadi wahana edukasi bagi mahasiswa tentang keanekaragaman hayati lokal Kendari dan sekitarnya.
Komponen keempat, “Komunitas Pengguna Transportasi Berkelanjutan”, akan mendorong mahasiswa dan staf untuk menggunakan sepeda, transportasi umum, atau carpooling. Organisasi mahasiswa merencanakan pengadaan 50 unit sepeda komunal yang dapat digunakan secara gratis oleh civitas akademika.
Komponen terakhir adalah “Penelitian dan Inovasi Mahasiswa” yang membuka call for proposals bagi mahasiswa untuk mengusulkan ide-ide kreatif dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan di kampus atau komunitas sekitar.
Dukungan Pimpinan Universitas
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Hendra Wijaya, S.E., M.M., memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif mahasiswa ini. “Universitas Mandala Waluya berkomitmen untuk menjadi institusi pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga menjadi role model dalam praktik keberlanjutan lingkungan. Gerakan Kampus Hijau ini adalah manifestasi konkret dari komitmen tersebut dan saya bangga melihat mahasiswa mengambil peran kepemimpinan dalam inisiatif ini,” ujar Prof. Hendra dalam sambutan resminya pada acara peluncuran.
Lebih lanjut, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Suryanto, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa universitas akan mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung implementasi program. “Kami telah menyiapkan dana sebesar 250 juta rupiah untuk tahun pertama implementasi Gerakan Kampus Hijau. Dana ini akan digunakan untuk pengadaan fasilitas pendukung, pelatihan, dan kegiatan sosialisasi. Kami percaya ini adalah investasi terbaik untuk masa depan kampus dan pendidikan berkelanjutan,” jelas Dr. Suryanto.
Dekan Unit Program Studi, Dr. Irawan Malik, S.Kom., M.Sc., juga mengapresiasi koordinasi lintas organisasi mahasiswa dalam merancang program. “Kolaborasi antar organisasi yang terjalin dalam persiapan Gerakan Kampus Hijau menunjukkan bahwa mahasiswa kami memiliki maturity dan visi yang jelas. Ini adalah contoh nyata bagaimana organisasi mahasiswa bisa menjadi change agent di institusi mereka,” tegasnya.
Respons Komunitas dan Harapan ke Depan
Respons dari komunitas mahasiswa sangat positif. Berdasarkan survei cepat yang dilakukan organisasi panitia pada hari peluncuran, 87 persen peserta menyatakan dukungan penuh dan siap terlibat aktif dalam program. Banyak mahasiswa yang antusias mengajukan pertanyaan teknis dan menawarkan ide-ide tambahan untuk memperkuat program.
Seorang mahasiswa semester tiga program studi Pendidikan Biologi, Nabila Kusuma Putri, mengungkapkan optimismenya. “Program ini sangat relevan dengan apa yang kami pelajari di kelas. Saya senang bisa terlibat langsung dalam aplikasi praktis dari teori keberlanjutan lingkungan yang kami pelajari. Saya sudah mendaftar diri untuk menjadi volunteer dalam komponen Taman Kampus Hijau,” ujarnya penuh antusiasme.
Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan, Firdaus Rahman, melihat program ini sebagai peluang emas untuk demonstrasi expertise program studinya. “Tim kami akan memfokuskan kontribusi pada komponen Audit Energi dan efisiensi pengelolaan limbah. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa mahasiswa teknik lingkungan bukan hanya ahli teori, tetapi problem solver yang siap memberikan solusi nyata,” paparnya.
Dampak dan Kontribusi Terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Melalui Gerakan Kampus Hijau, Universitas Mandala Waluya secara langsung berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Program ini terutama selaras dengan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Aksi Iklim), dan SDG 15 (Kehidupan di Darat).
Dalam jangka panjang, program ini diharapkan dapat menciptakan efek multiplikator. Mahasiswa yang menginternalisasi nilai-nilai keberlanjutan selama masa studi mereka akan membawa praktik ini ke tempat kerja dan komunitas mereka, sehingga dampak positif terus berkembang jauh melampaui batas-batas kampus.
Penutup
Gerakan Kampus Hijau Universitas Mandala Waluya Unit Program Studi Kendari menandai babak baru dalam keterlibatan organisasi mahasiswa dalam isu-isu sosial dan lingkungan yang material. Dengan dukungan penuh dari pimpinan universitas, kolaborasi yang solid antar organisasi mahasiswa, dan antusiasme civitas akademika, program ini memiliki potensi nyata untuk menjadi model transformasi kampus menuju keberlanjutan.
Sebagaimana disampaikan Ketua BEM Aurellia Kusuma Rahman dalam penutup acara, “Gerakan Kampus Hijau adalah bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya konsumen pengetahuan, tetapi juga produsen perubahan positif. Mari kita bersama-sama menciptakan kampus yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijaksana dalam mengelola sumber daya alam kita.”
—
Artikel ini ditulis berdasarkan observasi langsung pada acara peluncuran Gerakan Kampus Hijau Universitas Mandala Waluya tanggal 04 April 2026, serta wawancara dengan berbagai narasumber kunci dalam organisasi mahasiswa dan pimpinan universitas.